Selasa, 04 Juni 2013

ZIONISME


Hakikat Zionisme:


 Zionisme adalah sebuah gerakan dibentuk oleh Theodor Herzl pada 1896. Bertujuan mengembalikan orang-orang Yahudi di seantero jagat ke Eretz Yisrael atau Zion, nama lain untuk Yerusalem atau Tanah Israel.

Nama Zionisme berasal dari bukit Zion, sebuah bukit di Kota Yerusalem di mana pernah berdiri kuil Sulaiman. Pendukung dari gerakan ini disebut Zionis. Namun saat ini, terdapat kebingungan di antara bangsa Yahudi soal istilah Zionisme. Artinya berbeda untuk banyak orang. Alasannya lantaran faktor sejarah.

Zionisme telah menjadi gerakan dikuasai Yahudi sekuler. Herzl dan kawan-kawannya yang merupakan Yahudi campuran tidak meyakini atau mempraktikkan Torah (Taurat dalam bahasa Ibrani). Bahkan, beberapa kaum Zionis antiagama dan menilai ajaran Torah tidak sesuai konsep negara modern.

Alhasil, inti dari gagasan Zionis - bangsa Yahudi harus kembali ke Tanah Suci dan mendirikan negara - tidak saja bersifat sekuler. Kenyataannya, sejak awal gerakan Zionis mempunyai anggota dari kalangan religius.

Beberapa kaum Yahudi sekarang ini menggunakan istilah Zionisme sebagai sinonim bagi negara Israel sekuler. Mereka mendukung negara Israel meski menjadi anti-Zionis. Kelompok semacam ini hanya mengeluhkan negara Israel karena kurang religius. Mereka berharap suatu saat Israel bisa didominasi partai-partai religius.

Tapi hakikat dari Zionisme bukan seperti itu. Ini merupakan konsep di mana bangsa Yahudi harus bangkit, keluar dari pengasingan tanpa menunggu Sang Penyelamat dan mendirikan pemerintahan Yahudi di Tanah Suci. Ide ini melanggar Torah dan ditolak para rabbi dari semua generasi. Rabbi-rabbi Zionis kerap mengklaim kesimpulan itu muncul lantaran negara Israel dianggap kurang religius.

Rabbi Gedalya Lieberman dari Australia menulis Zionisme adalah fenomena rasis chauvinis dan bertolak belakang dengan ajaran Yudaisme. "Yudaisme adalah sebuah agama, bukan ras atau kebangsaan," katanya seperti dilansir truetorahjews.org.

Rabbi Agung Joel Teitelbaum hingga akhir hayatnya di New York, Amerika Serikat, mengutuk gerakan Zionis. Dia menuding enam juta orang Yahudi tewas dibantai tentara Nazi Jerman pada Perang Dunia kedua merupakan hukuman Tuhan terhadap Zionisme. "Zionisme adalah pekerjaan setan, penistaan agama," dia menegaskan.


Zionisme dan Anti-Semitisme:

Theodor Herzl (1860-1904) mengakui anti-Semitisme akan mempermulus tujuan mendirikan negara bagi bangsa Yahudi. Dia menegaskan bagaimana pun caranya, anti-Semit harus menjadi isu politik internasional.

"Anti-Semit akan menjadi teman terpercaya kita, negara-negara (mendukung) anti-Semit adalah sekutu kita," tulis Herzl dalam bukunya Der Judenstaat (Negara Israel) halaman 19, seperti dilansir truetorahjews.org. Buku ini diluncurkan pada 14 Februari 1896 di Leipzig, Jerman, dan Austria.

Herzl adalah wartawan Yahudi keturunan Austria-Hungaria. Dia dilahirkan pada 2 Mei 1860 di Past, Hungaria. Nama aslinya Benjamin Ze'ev Herzl.

Sejumlah hasil penelitian menyebutkan imigrasi warga Yahudi ke Israel makin meningkat di saat anti-Semit juga naik. Para pemimpin Zionis mengkampanyekan isu itu untuk mendorong kaum Yahudi keluar dari negara tempat tinggal mereka lantaran merasa sudah tidak aman. Anti-Semit diperlukan untuk menjaga mayoritas Yahudi di Israel.

Inilah yang terjadi saat rezim Adolf Hitler berkuasa di Jerman. Kongres Yahudi Amerika pada Maret 1933 menyerukan unjuk rasa besar-besaran di Madison Square Garden, New York, untuk memboikot semua produk asal Jerman. Alhasil, 40 ribu orang berdemonstrasi anti-Hitler. Seruan serupa juga disampaikan kepada seluruh kaum Yahudi sejagat untuk memboikot produk Jerman dan menolak semua kepentingan ekonomi negara itu.

Hasilnya, Hitler marah besar. Lantaran demo tidak berhenti, pada 28 Maret 1933, Hitler memerintahkan memboikot semua toko dan perusahaan milik kaum Yahudi di Jerman. Kampanye ini berhasil, warga Yahudi di negara itu merasa tidak nyaman dan ingin keluar.

Karena itulah, masih di tahun yang sama, pimpinan Zionis di Jerman meneken Perjanjian Perpindahan dengan pemerintahan Hitler. Berdasarkan kesepakatan itu, warga Yahudi dipaksa pindah ke wilayah Palestina, tempat akan menjadi berdirinya negara Israel. Sebelum anti-Semit meningkat di Jerman, amat sedikit kaum Yahudi bersimpati atas gerakan Zionis.

Dengan perjanjian itu pula, Hitler mendirikan 40 kamp pelatihan bagi warga Yahudi sebagai persiapan tinggal di Palestina. Hingga akhir 1942, sedikitnya ada satu kamp Kibbutz telah mengibarkan calon bendera Israel.

Untuk memastikan kaum Yahudi itu tidak lari ke negara lain, kaum Zionis tidak segan bertindak kejam. Atas dasar pengaruh mereka pula, lima kapal berisi pengungsi Yahudi asal Jerman ditolak masuk ke Amerika Serikat. Mereka akhirnya dikirim kembali ke Jerman dan akhirnya dibunuh tentara Nazi di dalam kamp gas beracun.

Prinsip keji ini dianut pula oleh David Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel. "Jika saya tahu bisa menyelamatkan semua anak (Yahudi) di Jerman dengan membawa mereka ke Inggris dan hanya setengah dari mereka dapat diungsikan ke Eretz Israel. Saya akan mengambil pilihan kedua. Ini bukan sekadar persoalan menyelamatkan nyawa anak-anak Yahudi, namun bagaimana memelihara sejarah rakyat Israel," ujar Ben Gurion pada 7 Desember 1938.

Darah Yahudi di tangan Zionis:

Banyak orang boleh saja bersimpati terhadap korban Holocaust, pembantaian oleh tentara Nazi Jerman terhadap warga Yahudi selama Perang Dunia kedua. Konon korbannya mencapai enam juta. Namun hanya sedikit orang tahu Zionis mendalangi pembantaian itu.

Ceritanya begini. Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt pada 6-15 Juli 1938 menggelar konferensi the Evian buat membahas persoalan pengungsi Yahudi. Delegasi dari the Jewish Agency diketuai oleh Golda Meir (kemudian menjadi perdana menteri Israel pada 1970-an) menolak solusi dari Jerman. Negara itu menawarkan US$ 250 per kepala buat orang Yahudi di Jerman dan Austri agar pindah ke negara lain. Amerika bersama 32 negara lain yang hadir dalam pertemuan itu akhirnya menolak pula gagasan Jerman ini.

Di lain waktu, 1 Februari 1940, Wakil Presiden the United Jewish Appeal Henry Montor ogah turun tangan menangani kapal bermuatan pengungsi Yahudi di Sungai Danube, Jerman. "Palestina tidak bisa dibanjiri oleh ... orang-orang tua atau yang tidak ingin pindah ke sana," katanya memberi alasan, seperti dilansir truetorahjews.org.

Setahun kemudian dan pada 1942, Gestapo Jerman berniat menyelamatkan jutaan orang Yahudi. Mereka menawarkan seluruh Yahudi di Eropa untuk transit di Spanyol jika mereka mau meninggalkan semua kekayaan mereka di Jerman dan Prancis. Syaratnya: tidak boleh ada yang pergi ke Palestina, semua pengungsi Yahudi akan dikirim ke Amerika dan daerah jajahan Inggris dengan visa diurus oleh orang Yahudi tinggal di sana, dan the Jewish Agency bakal memberikan USD 1 ribu per keluarga setelah mereka tiba di Spanyol.

Para pemimpin Zionis di Swiss dan Turki menyetujui ususlan ini karena mereka paham Palestina tidak bisa dijadikan tujuan pengungsi sebab sudah ada perjanjian antara Jerman dan mufti di Palestina.

Namun pentolan Zionis lainnya menentang gagasan itu. Alasan mereka: Palestina harus menjadi satu-satunya tujuan buat pengungsi Yahudi, orang-orang Yahudi itu lebih baik menderita dan terbunuh agar negara menang perang menyepakati berdirinya negara Israel di wilayah Palestina, dan mereka menolak memberikan kompensasi buat para pengungsi Yahudi itu.

Tawaran serupa dari Hungaria pada 1944 juga dtolak. Para pemimpin Zionis juga berhasil menggagalkan penyelamatan 300 rabbi bersama keluarga mereka ke Mauritius lewat Turki.

Pada 16 Februari 1943, Rumania berencana mengevakuasi 70 ribu pengungsi Yahudi. Prposal ini dilansir pelbagai surat kabar di New York, Amerika Serikat. Yitzhak Greenbaum, Ketua the Rescue Committee of the Jewish Agency dua hari kemudian berbicara di hadapan anggota Dewan Eksekutif Zionis di Tel Aviv. "Ketika mereka menanyakan saya apakah Anda bisa membiayai penyelamatan Yahudi di Eropa, saya bilang tidak, saya bilang sekali lagi tidak...harus ada yang menolak rencana ini karena membuat kegiatan Zionis bukan prioritas utama."

Sepekan berselang, Presiden Kongres Yahudi Amerika (AJC) Stephen Wise menyatakan penolakan terbuka soal rencana itu. Dia juga mengumumkan pihaknya tidak bisa memberikan bantuan dana buat memuluskan penyelamatan itu. Dia juga menolak usulan membentuk dewan penyelamat pengungsi Yahudi oleh Amerika yang disampaikan Komite Darurat buat Menyelamaakan Orang Yahudi (ECSJP) pada 1944.

Selama perundingan untuk mendirikan Dewan Pengungsi Perang itu, Chaim Weizman menegaskan bagian penting dari bangsa Yahudi sudah tinggal di Palestina, sedangkan orang-orang Yahudi di luar Palestina tidak terlalu penting. "Satu sapi di Palestina lebih berharga ketimbang seluruh orang Yahudi di Eropa," ujarnya.

Anggota Kongres Amerika William Stration pada 1947 mensponsori rancangan beleid buat memberikan visa Amerika bagi 400 ribu pengungsi Yahudi. Tapi rancangan undang-undang ini gagal disahkan setelah sejumlah pemimpin Zionis di negara itu menolak.

Kejadian serupa juga berlangsung di Kanada pada 23 Februari 1956. Majelis Rendah Parlemen Kanada menanyakan kepada Menteri Imigrasi J.W. Pickersgill, apakah bersedia menampung pengungsi Yahudi. "Pemerintah tidak bisa melanjutkan ke arah itu karena pemerintah Israel...tidak ingin kita melakukan itu," jawabnya.

Kepemimpinan Zionis pada 1972 juga berhasil menggagalkan upaya Kongres Amerika mengizinkan masuk 20-30 ribu pengungsi Yahudi dari Rusia. Dua organisasi bantuan Yahudi di negara itu, Joint dan HIAS, dipaksa untuk menurunkan para pengungsi Yahudi itu di Wina (Austria), Roma (Italia), dan kota-kota Eropa lainnya.

Semua kenyataan itu kian membuktikan Zionis mendalangi Holocaust.

Sumber : www.merdeka.com

 




KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayahNya kita masih diberi keselamatan dan kebahagiaan. Selamat serta salam juga Kami hanturkan kepada junjungan besar Rasululallah SAW., keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Telah tersusun makalah kewirausahaan ini sebagai tugas mata kuliah Kewirausahaan pada Jurusan Akuntansi STIE Ahmad Dahlan Jakarta dengan judul “Menumbuhkan Jiwa dan Kompetensi Kewirausahaan”.
Kami sebagai penulis mempunyai harapan besar dari penulisan makalah ini, yang tidak hanya sebagai tugas mata kuliah saja namun diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai kewirausahaan, dan semoga memberikan manfaat bagi Kami dan pihak lain.
Kami juga menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat Kami butuhkan demi kemajuan kita bersama. Terima kasih juga Kami hanturkan kepada berbagai pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhir kata Kami ucapkan selamat membaca dan semoga kita tidak henti-hentinya menumbuh kembangkan jiwa dan kompetensi kewirausahaan yang kita miliki.
Hormat kami,
Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG MASALAH
Harapan untuk diterima di dunia kerja tentunya tidaklah keliru, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kesempatan kerja pun sangat terbatas dan tidak berbanding linear dengan lulusan lembaga pendidikan baik dasar, menengah maupun pendidikan tinggi. Oleh sebab itu semua pihak harus terus berpikir dan mewujudkan karya nyata dalam mengatasi kesenjangan antara lapangan kerja dengan lulusan institusi pendidikan. Kesenjangan ini merupakan penyebab utama peningkatan angka pengangguran. Sedangkan pengangguran adalah salah satu permasalahan pembangunan yang sangat kritis khususnya di negara Indonesia termasuk di daerah-daerah di pelosok nusantara. Salah satu solusinya adalah dengan mencetak lulusan lembaga pendidikan yang memiliki potensi untuk mengembangkan keterampilannya menjadi usaha mandiri. Selain menjadi solusi bagi dirinya, seringkali usaha mandiri ini mendatangkan berkah bagi orang lain yang direkrut sebagai karyawan ataupun buruh pada usaha yang dirintisnya.
Pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi memaksa terbukanya kran persaingan global yang tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Setiap kita dituntut untuk dapat berkompetisi secara global diberbagai bidang, tak terkecuali bidang Sumber Daya Manusia yang merupakan pondasi dari sebuah negara untuk dapat bercatur pada tataran Internasional.
Kemampuan sumber daya manusia yang harus dimiliki tidak cukup sebatas mampu bersaing dalam memperebutkan peluang kerja yang ada namun bagaimana kita dapat menciptakan peluang pekerjaan tersebut bagi banyak orang. Dengan itu setiap kita dituntut untuk mampu dan mau berjiwa wirausaha sehingga menjadi kreatif dan inovatif dalam memunculkan ide-ide dan gagasan baru.
Kewirausahaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena keberadaannya sebagai khalifah fil-ardh dimaksudkan untuk memakmurkan bumi dan membawanya ke arah yang lebih baik (QS. 11/Hud : 61).
Namun kenyataannya tidak mudah bagi kita untuk memulai terjun berwirausaha. Kendala, rintangan dan kesukaran senantiasa menghampiri aktifitas didalamnya, namun demikian berbagai permasalahan yang datang adalah lembaran utama berupa proses menuju pendewasaan dan kematangan seorang entrepreneurship yang bermuara pada kesuksesan dalam mengelola suatu bidang usaha.
Dalam mencari bidang untuk berwirausaha, kita harus melihat peluang keuntungan yang di berikan bidang tersebut minimal dalam jangka 10 tahun kedepan.

  1. RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
Dalam mengkaji pokok bahasan dalam makalah “Menumbuhkan Jiwa dan Kompentesi Kewirausahaan” maka Penulis memberikan rumusan dan batasan masalah sebagai berikut:
  1. Apa sikap dan sifat yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan?
  2. Bagaimana menumbuhkan jiwa dan kompetensi kewirausahaan?

  1. TELAAH PUSTAKA
  1. Inti dan hakikat kewirausahaan
Kewirausahaan (Suryana: 2003) adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melalui berfikir kreatif dan inovatif. Suryana (2003) mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan suatu kemampuan dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda melalui :
  1. Pengembangan teknologi baru
  2. Penemuan pengetahuan ilmiah baru
  3. Perbaikan produk barang dan jasa yang ada
  4. Penemuan cara-cara baru untuk menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya lebih efisien.
Kreativitas adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan cara-cara baru dalam pemecahan masalah dan menemukan peluang. Sedangkan inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka pemecahan masalah dan menemukan peluang. Jadi kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang baru dan berbeda, sedangkan inovasi merupakan kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru dan berbeda.

  1. Jiwa dan sikap kewirausahaan
Meredith et al.. (2002), mengemukakan nilai hakiki penting dari wirausaha adalah:
  1. Percaya diri ( self confidence )
Merupakan paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan, yang bersifat internal, sangat relatif dan dinamis dan banyak ditentukan oleh kemampuannya untuk memulai, melaksanakan dan menyelesaikan suatu pekerjaan. Kepercayaan diri akan mempengaruhi gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja, kegairahan berkarya. Kunci keberhasilan dalam bisnis adaalh untuk memahami diri sendiri. Oleh karena itu wirausaha yang sukses adalah wirausaha yang mandiri dan percaya diri.
  1. Berorientasi tugas dan hasil
Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan kerja keras. Dalam kewirausahaan peluang hanya diperoleh apabila ada inisiatif.
Perilaku inisiatif biasanya diperoleh melalui pelatihan dan pengalaman bertahun-tahun dan pengembangannya diperoleh dengan cara disiplin diri, berpikir kritis, tanggap, bergairah dan semangat berprestasi.
  1. Keberanian mengambil resiko
Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Pada situasi ini ada dua alternatif yang harus dipilih yaitu alternatif yang mengangung risiko dan alternatif yang konservatif . Pilihan terhadap risiko tergantung pada :
  1. Daya tarik setiap alternative
  2. Kesediaan untuk rugi
  3. Kemungkinan relative untuk sukses atau gagal
Selanjutnya kemampuan untuk mengambil risiko tergantung dari :
  1. Keyakinan pada diri sendiri
  2. Kesediaan untuk menggunakan dalam mencari peluang dan kemungkinan untuk memperoleh keuntungan
  3. Kemampuan untuk menilai situasi resiko secara realistis
  1. Kepemimpinan
Seorang wirausaha harus memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan, keteladanan. Ia selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor baik dalam proses produksi maupun pemasaran. Dan selalu memanfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai.
  1. Berorientasi ke masa depan
Wirausaha harus memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan, kuncinya adalah dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang ada sekarang.
  1. Keorisinilan : Kreativitas dan inovasi wirausaha yang inofatif adalah orang yang mempunyai cirri-ciri :
  1. Tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun cara tersebut cukup baik.
  2. Selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya.
  3. Selalu ingin tampil berbeda atau selalu memanfaatkan perbedaan
Kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Everett E. Hagen ciri-ciri innovational personality sebagai berikut :
  1. Openness to experience, terbuka terhadap pengalaman
  2. Creative imagination, memiliki kemampuan untuk bekerja dengan penuh imajinasi
  3. Confidance and content in one’s own evalution, memiliki keyakinan atas penilaian dirinya dan teguh pendirian
  4. Satisfication in facing and attacking problems and resolving confusion or inconsistency, selalu memiliki kepuasan dalam menghadapi dan memecahkan persoalan
  5. Has a duty responsibility to achieve, memiliki tugas dan rasa tanggung jawab untuk berprestasi
  6. Inteigence and energetic, memiliki kecerdasan dan energik
Sedangkan menurut Alma (2003), jalan menuju wirausaha sukses adalah:
  • Mau kerja keras
  • Bekerja sama
  • Penampilan yang baik
  • Yakin
  • Pandai mempuat keputusan
  • Mau menambah ilmu pengetahuan
  • Ambisi untuk maju
  • Pandai berkomunikasi
Proses kreatif dan inovatif (Suryana: 2003) hanya dilakukan oleh orangorang yang memiliki jiwa dan sikap kewirausahaan yaitu :
  1. Percaya diri ( yakin, optimis dan penuh komitmen )
  2. Berinisiatif ( energik dan percaya diri )
  3. Memiliki motif berprestasi ( berorientasi hasil dan berwawasan ke depan )
  4. Memiliki jiwa kepemimpinan ( berani tampil bedan dan mengambil resiko dengan penuh perhitungan)
  5. Suka tantangan
Faktor pribadi yang mempengaruhi kewirausahaan : motif berprestasi, komitmen, nilai-nilai pribadi, pendidikan dan pengalaman. Sedangkan dari factor lingkungan adalah peluang, model peran dan aktivitas.























BAB II
PEMBAHASAN

  1. KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN

Wirausaha yang sukses pada umumnya adalah mereka yang memiliki kompetensi yaitu : seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan kualitas individu yang meliputi sikap, motivasi, nilai serta tingkah laku yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan/kegiatan.
Keterampilan yang harus dimiliki :
  1. Managerial skill
  2. Conceptual slill
  3. Human skill ( keterampilan menumuskan masalah dan mengambil keputusan)
  4. Decision making skill (keterampilan merumuskan masalah dan mengambil keputusan)
  5. Time managerial skill (keterampilan mangatur dan menggunakan waktu)
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan individu yang langsung berpengaruh pada kinerja, Kinerja bagi wirausaha merupakan tujuan yang ingin dicapai.
  1. MENUMBUHKAN JIWA DAN KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN
  1. Menumbuhkan Jiwa Wirausaha
Mungkin kita pernah mendengar bahwa keluarga yang kaya akan memunculkan anak-anak yang kaya karena mereka terbiasa kaya. Begitu pula ada yang menganggap bahwa seseorang menjadi pengusaha karena memang bapakibunya, kakek-neneknya, dan sebagian besar keluarganya adlah keturunan pengusaha. Anggapan seperti ini menurut hemat penulis merupakan pemikiran yang keliru.
Tidak bisa dipungkiri memang, ada banyak pengusaha yang lahir dari keluarga atau keturunan pengusaha. Tetapi bukan berarti diturunkan secara genetis. Mungkin hal ini terjadi karena aspek lingkungan pengusaha yang cukup kuat mempengaruhi jiwa orang tersebut untuk menjadi pengusaha. Menjadi wirausaha (entrepreneur) tentu saja merupakan hak azasi semua kita. Jangan karena mentang-mentang kita tidak punya turunan pengusaha sehingga menutup peluang untuk menjadi wirausaha. Langkah awal yang kita lakukan apabila berminat terjun ke dunia wirausaha adalah menumbuhkan jiwa kewirausahaan di diri kita.
Banyak cara yang dapat dilakukan misalnya:
  1. Melalui pendidikan formal, kini berbagai lembaga pendidikan baik menengah maupun tinggi menyajikan berbagai program atau paling tidak mata kuliah kewirausaaan.
  2. Melalui Seminar-seminar kewirausahaan seringkali diselenggarakan dengan mengumdang pakar dan praktisi kewirausahaan sehingga melalui media ini kita akan membangun jiwa
  3. Kewirausaaan didiri kita
  4. Melalui pelatihan, Berbagai simolatotr usaha biasanya diberikan melalui pelatihan baik yang dilakukan dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Meliputi pelatihan ini, keberanian dan ketanggapan kita terhadap dinamika perubahanlingkungan akan diuji dan selalu diperbaiki dan dikembangkan
  5. Otodidak
Melalui berbagai media kita bias menumbukan semangat berwirausaha. Misalnya melalui biografi pengusaha sukses (success story), media televise, radio, majalah, Koran, dan berbagai media yang dapat kita akses untuk menumbuhkan jiwa wirausaha yang ada di diri kita. Melalui berbagai media tersebut ternyata setiap orang dapat mempelajari dan menumbuhkan jiwa wirausaha.
Adapun aspek kejiwaan yang mencirikan bahwa seseorrang dikatakan memilikijiwa wirausaha adalah sebagai berikut:
  1. Percaya diri (yakin, optimis dan penuh komitmen)
Percaya diri dalam menentukan sesuatu, percaya diri dalam menjalankan sesuatu, percaya diri bahwa kita dapat mengatasi berbagai resiko yang dihadapi merupakan faktor yang mendasar yang harus dimiliki oleh wirausaha. Seseorang yang memiliki jiwa wirausaha merasa yakin bahwa apa-apa yang diperbuatnya akan berhasil walaupun akan menghadapi berbagai rintangan. Tidak selalu dihantui rasa takut akan kegagalan sehingga membuat dirinya optimis untuk terus maju.

  1. Berinisiatif (energik dan percaya diri)
Menunggu akan sesuatu yang tidak pasti merupakan sesuatu yang paling dibenci oleh seseorang yang memiliki jiwa wirausaha. Dalam menghadapi dinamisnya kehidupan yang penuh dengan perubahan dan persoalan yang dihadapi, seorang wirausaha akan selalu berusaha mencari jalan keluar. Mereka tidak ingin hidupnya digantungkan pada lingkungan, sehingga akan terus berupaya mencari jalan keluarnya.
  1. Memiliki motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan)
Berbagai target demi mencapai sukses dalam kehidupan biasanya selalu dirancang oleh seorang wirausaha. Satu demi satu targetnya terus mereka raih. Bila dihadapkan pada kondisi gagal, mereka akan terus berupaya kembali memperbaiki kegagalan yang dialaminya. Keberhasilan demi keberhasilan yang diraih oleh seseorang yang berjiwa entrepreneur menjadikannya pemicu untuk terus meraih sukses dalam hidupnya. Bagi mereka masa depan adalah kesuksesan adalah keindahan yang harus dicapai dalam hidupnya.
  1. Memiliki jiwa kepemimpinan (berani tampil berbeda dan berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan)
Leadership atau kepemimpinan merupakan faktor kunci menjadi wirausahawan sukses. Berani tampil ke depan menghadapi sesuatu yang baru walaupun penuh resiko. Keberanian ini tentunya dilandasi perhitungan yang rasional.
Seorang yang takut untuk tampil memimpin dan selalu melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, akan sulit meraih sukses dalam berwirausaha. Sifat-sifat tidak percaya diri, minder, malu yang berlebihan, takut salah dan merasa rendah diri adalah sifat-sifat yang harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh dari diri kita apabila ingin meraih sukses dalam berwirausaha.
  1. Suka tantangan
Kita mungkin sering membaca atau menyaksikan beberapa kasus mundurnya seorang manajer atau eksekutif dari suatu perusahaan. Apa yang menyebabkan mereka hengkang dari perusahaannya dan meninggalkan kemapanan sebagai seorang manajer? Sebagian dari mereka ternyata merasa jenuh terus menerus mengemban tugas rutin yang entah kapan berakhirnya.
Mereka membutuhkan kehidupan yang lebih dinamis yang selama ini belim mereka dapatkan di perusahaan tempat mereka bekerja. Akhirnya mereka menelusuri aktivitas seperti apakah yang dapat memuaskan kebutuhan mereka akan tantangan ? “Berwirausaha” ternyata menjadi pilihan sebagian besar manajer yang sengaja keluar dari kemapanannya di perusahaan. Mengapa “wirausah ?” Ternyata begitu banyak variasi pekerjaan dan perubahan yang sangat menantang dalam dunia wirausaha.

2.    Menumbuhkan Kompetensi Kewirausahaan
Wirausaha yang sukses pada umumnya adalah mereka yang memiliki kompetensi yaitu : seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan dan kualitas individu yang meliputi sikap, motivasi, nilai serta tingkah laku yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan/kegiatan.
Keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha adalah :
a.    Managerial skill
Managerial skill atau keterampilan manajerial merupakan bekal yang harus dimiliki wirausaha. Seorang wirausahawan harus mampu menjalankan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan agar usaha yang dijalankannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Kemampuan menganalisis dan mengembangkan pasar, kemampuan mengelola sumber daya manusia, material, uang, fasilitas dan seluruh sumber daya perusahaan merupakan syarat mutlak untuk menjadi wirausaha sukses.
Secara garis besar ada dua cara untuk menumbuhkan kemampuan manajerial, yaitu melalui jalur formal dan informal. Jalur formal misalnya melalui jenjang lembaga pendidikan sekolah menengah kejuruan bisnis dan manajemen atau melalui pendidikan tinggi misalnya departemen administrasi niaga atau departemen manajemen yang tersebar berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Jalur informal, misalnya melalui seminar, pelatihan dan otodidak serta melalui pengalaman.
b.    Conceptual skill
Kemampuan untuk merumuskan tujuan, kebijakan dan strategi usaha merupakan landasan utama menuju wirausaha sukses. Tidak mudah memang mendapatkan kemampuan ini. Kita harus akstra keras belajar dari berbagai sumber dan terus belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain dalam berwirausaha.
c.    Human skill
(keterampilan memahami, mengerti, berkomunikasi dan berelasi)
Supel, mudah bergaul, simpati dan empati kepada orang lain adalah modal keterampilan yang sangat mendukung kita menuju keberhasilan usaha. Dengan keterampilan seperti ini, kita akan memiliki banyak peluang dalam merintis dan mengembangkan usaha.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan ini misalnya denganmelatih diri diberbagai organisasi, bergabung dengan klub-klub hobi dan melatih kepribadian kita agar bertingkah laku mentenangkan bagi orang lain
d.    Decision making skill
(keterampilan merumuskan masalah dan mengambil keputusan)
Sebagai seorang wirausaha, kita seringkali dihadapkan pada kondisi ketidakpastian. Berbagai permasalahan biasanya bermunculan pada situasi seperti ini. Wirausaha dituntut untuk mampu menganalisis situasi dan merumuskan berbagai masalah untuk dicarikan berbagai alternatif pemecahannya.
Tidak mudah memang memilih alternatif terbaik dari berbagai alternatif yang ada. Agar tidak salah menentukan alternatif, sebelum mengambil keputusan, wirausaha harus mampu mengelola informasi sebagai bahan dasar pengambilan keputusan. Keterampilan memutuskan dapat kita pelajari dan kita bangun melalui berbagai cara. Selain pendiudikan formal, pendidikan informal melalui pelatihan, simulasi dan berbagi pengalaman dapat kita peroleh.
e.    Time managerial skill
( keterampilan mengatur dan menggunakan waktu)
Para pakar psikologi mengatakan bahwa salah satu penyebab atau sumber stress adalah ketidakmampuan seseorang dalam mengatur waktu dan pekerjaan. Ketidakmampuan mengelola waktu membuat pekerjaan menjadi menumpuk atau tak kunjung selesai sehingga membuat jiwanya gundah dan tidak tenang. Seorang wirausaha harus terus belajar mengelola waktu. Keterampilan mengelola waktu dapat memperlancar pelaksanaan pekerjaan dan rencana-rencana yang telah digariskan.



BAB III
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan makalah “Menumbuhkan Jiwa dan Kompetensi Kewirausahaan” bahwa dalam meniti dunia usaha terlebih dahulu harus ditumbuh kembangkan jiwa dan kompetensi kewirausahaan, dan banyak cara yang dapat dilakukan untuk hal tersebut. Diantaranya adalah melalui pendidikan formal, melalui seminar-seminar kewirausahaan, melalui pelatihan, dan secara otodidiak. Orang-orang yang memiliki jiwa kewirausahaan yakni mereka yang percaya diri, inisiatif, motif berprestasi, jiwa kepemimpinan, dan suka tantangan.
Selain menumbuh kembangkan dan memiliki jiwa serta kompetensi kewirausahaan, mereka wirausahawn juga perlu memiliki keterampilan khusus yakni managerial skill, conceptual skill, human skill, decision making skill, dan time managerial skill.
  1. SARAN
Pada bagian akhir dari penulisan makalah kewirausahaan ini, Penulis ingin menyampaikan harapan bahwa menumbuh kembangkan jiwa dan kompetensi kewirausahaan seharusnya di mulai sejak dini di lingkungan maupun di jenjang pendidikan masing-masing. Baik itu dengan metode dan cara yang sederhana maupun yang professional sekali pun.




  1. DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2008. http//www. Wikipedia.com. Diakses tanggal 2 April 2009
Anonymous.2008. http//www.astra-agro.co.id. Diakses tnaggal 2 April 2009
Buchari Alma. 2003. Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta. Longenecker, Justin G., et al. 2000.
Kewirausahaan: Manajemen Usaha Kecil. Jakarta : Salemba Empat Meredith, Geoffrey G. 2002.
Kewirausahaan: Teori dan Praktek. Jakarta : PPM Moh. Nazir. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suryana. 2003. Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Gramedia








Senin, 03 Juni 2013

Mengungkap Kelicikan Zionis Yahudi di Indonesia

 Jauh hari Allah Ta’ala telah mengkabarkan kepada umat Islam, bahwa kaum Yahudi, terutama kelompok Zionis Yahudi merupakan musuh yang paling keras perlawanannya. Hati mereka tidak pernah rela dan tenang jika tidak dapat memurtadkan orang-orang Islam atau merusak imannya. Mereka akan selalu berupaya sekuat tenaga—menggunakan cara-cara halus maupun kasar—memaksa muslimin mengikuti tata cara, pemikiran hingga millah (agama) Yahudi (atau Nasrani)

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (agama) mereka…” (QS. Al-Baqarah: 120)


Yahudi adalah bangsa keturunan Yahuza (asal kata Yahudi), salah seorang anak Nabi Ya’kub yang dikenal sebagai Israil. Nabi Ya’kub adalah putra Nabi Ishak. Nabi Ishak adalah putra Nabi Ibrahim dari istri pertama, Sarah. Dari istri kedua, Hajar, Nabi Ibrahim dikarunia anak bernama Nabi Ismail yang menurunkan bangsa Arab. Jadi bangsa Arab dan Yahudi sebenarnya masih satu keturunan dari Nabi Ibrahim. Namun, Al-Qur’an menyebutkan bahwa bangsa Yahudi adalah yang paling keras memusuhi umat Islam.

Permusuhan orang-orang Yahudi dan Zionis yang begitu keras atas orang-orang beriman adalah wujud dari sikap dengki mereka pada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan umatnya. Karena Allah Ta’ala telah memilih Muhammad sebagai utusan terakhir untuk seluruh umat manusia. Bukan dari bangsa mereka, tetapi dari bangsa Arab yang mereka pandang lebih hina dan rendah.

“Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepada mu (umat Islam) dari Rabb-mu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian) dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Baqarah: 105)

Kedengkian dan sikap permusuhan kaum Yahudi terhadap Islam, membuat mereka berani mendustakan kerasulan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, meski mereka telah mengetahui dan memahaminya dari Taurat dan Injil. Tetapi mereka menyembunyikan dan mengingkari kebenaran itu (QS. Al-Baqarah: 146). Bahkan terhadap Allah Subahanahu Wa Ta’ala, mereka berani menyifatinya miskin, sedang mereka yang kaya. Mahasuci Allah dari tuduhan mereka yang terlaknat itu (QS. Ali Imran: 181).

Demikian besar kebencian kaum Yahudi terhadap Islam, kekejian dan kelicikannya akan terus berjalan bahkan akan lebih berkembang lagi sampai akhir zaman.

Sampai kapan pun, mereka tidak akan rela jika negeri-negeri Muslim menjadi kuat, bersatu-padu menguasai imperium dunia.

Bukan tidak mungkin, kaum Muslimin akan mewarisi sejarah yang gemilang, seperti Kesultanan Turki Utsmani berhasil menaklukkan Andalusia atau Salahuddin Al Ayyubi yang merebut Baitul Maqdis. Kecemasan inilah yang mendorong mereka , menghimpun segala energi untuk membelah kekuatan umat, memperlemah barisan, mental, politik, militer, dan ekonominya hingga ke titik nadir.

Berbagai cara dilakukan untuk merontokkan negeri-negeri Muslim, mulai dari berbagai macam tipudaya sebagai berikut: embargo senjata dan ekonomi, perdagangan bebas, menerapkan politik devide et impera (politik belah bambu), seperti menghembuskan isu Sunni-Syiah, menanam spionase di setiap organisasi Islam, membangkitkan radikalisme, hingga meracuni umat dengan pemikiran liberal, termasuk merusak generasi muda Islam dengan narkoba dan pornografi.

Itulah sebagian kecil cara yang ditempuh Zionis Internasional dalam menghancurkan negeri-negeri Muslim. Dengan kekuatan terselubung dan tak tersentuh (invisible hand), seperti menggunakan banyak “baju” untuk mengelabui atau berkedok dewa penolong, tak tahunya langsung menikam ke jantung kekuatan umat Islam.

Gerakan Yahudi di Indonesia
Yahudi memasuki Indonesia pada tahun 1770-an. Awalnya ketika Hittler berkuasa di Jerman, sejak saat itu banyak warga Yahudi yang melarikan diri ke negara-negara lain di dunia termasuk ke Indonesia melalui Rusia. Salah satunya nenek dari Dhani (Dewa), adalah seorang keturunan Yahudi.

Tidak mudah untuk melacak jejak Yahudi di Indonesia, apalagi gerakannya sangat rahasia. Aktifitas mereka sangat halus dan berkedok kegiatan sosial dan kemanusiaan. Namun sasaran dan tujuannya sangat jelas, yaitu menghapuskan Islam.

Keberadaan kaum zionis di Indonesia dapat di lacak dari gedung-gedung dan bangunan-bangunan tua di Indonesia yang memiliki sejarah sebagai tempat berkumpulnya gerakan ini. Tempat-tempat tersebut bernama “Loge-gebow” tempat pertemuan para Vrijmetselarij. Loge-gebow atau rumah arloji atau rumah setan adalah sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Sementara Vrijmetselarij (lebih dikenal dengan Freemasonry) adalah organisasi bentukan Zionis Yahudi di Indonesia (zaman Hindia Belanda-VOC). Organisasi ini tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah organisasi dari gerakan Zionis Yahudi Internasional yang berkedudukan di London-Inggris sejak 1717 M. Freemasonry inilah yang kini mengendalikan gerakan-gerakan zionis Yahudi di seluruh dunia, melalui organisasi-organisasi rahasia kecil lainnya (Herry Nurdi, “Jejak Freemason dan Zionis di Indonesia”, 2007).

Gerakan zionis Yahudi ini walaupun mengatasnamakan kemanusiaan, tujuan akhirnya adalah menghancurkan kesejahteraan manusia, merusak kehidupan umat manusia di semua negara yang ditempatinya. Mereka ingin menjadi kaum yang menguasai dunia dengan cara merusak bangsa lain khususnya umat Islam. Satu dari sekian doktrin yang sangat kuat di tanamkan kepada pengikutnya adalah sikap mereka kepada agama. Mereka menganggap semua agama itu benar. Ini persis dengan ajaran plularisme, yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

Khalil Saman, seorang anggota Freemasonry mengatakan, “Sesungguhnya semua ajaran agama itu sama saja, merupakan ajaran moral yang ada kalanya bertentangan dengan moralnya sendiri…Kewajiban seorang freemasonry untuk menyadarkan mereka dan membebaskannya dari kekangan agama…”

Yahudi sangat bercita-cita pada tujuan gerakan ini, di Palestina sendiri mereka berupaya merebut bangunan Sulaiman, menghancurkan masjid Al-Aqsha dan mendirikan Israel raya, yang melingkupi Palestina, Mekah dan Madinah. Buktinya, hingga hari ini berbagai upaya penghancuran (masjid Al-Aqsha) dan pengusiran muslim Palestina dari negerinya kerap dilakukan.

Sedangkan di Indonesia, melalui antek-anteknya, mereka berhasil menguasai sektor politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Melalui sektor ekonomi, terutama bidang perbankan, Yahudi berupaya melahirkan sistem perekonomian berbasis bunga bank (riba). Dengan sistem ini mereka membelenggu warga Indonesia khususnya muslimin bergelut dengan riba. Efeknya sangat besar, menjauhkan muslimin dari rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga do’a sebagai ‘senjata ampuh’ umat Islam kini tidak mereka takutkan lagi.

Selain itu, perusahan-perusahan nasional, baik swasta maupun BUMN sebagian besar sahamnya sudah dikuasai mereka. Indosat, Sampoerna (perusahaan rokok), Yamaha, dan Debindo merupakan satu bukti nyata keberadaan mereka di Indonesia. (lihatlah gambar semua produk tadi memiliki kesamaan dengan perlambang star of david).

Belum lagi kafe-kafe dan diskotik-diskotik di kota-kota besar, sebagian ada yang menggunakan lambang atau kode-kode zionis. Termasuk LSM-LSM yang kerap menunggangi para aktivis muda (mahasiswa dan pemuda) untuk berbuat chaos dengan bendera-bendera yang memunculkan gaya komunisme baru

Dr. Ridwan Saidi (pemerhati zionis internasional) mengatakan, termasuk lambang beberapa televisi (TV) swasta di Indonesia memiliki makna-makna zionisme. Ini terbukti, hampir semua stasiun televisi yang ada saat ini menayangkan program-program yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, mistik, huru-hara, percintaan, hamil di luar nikah, sadisme, provokatif, gossip dan adegan konyol lainnya sudah menjadi bagian acaranya.

Tidak ketinggalan, bidang pendidikan merupakan sorotan yang paling diminati Zionisme Yahudi. Orang-orang pintarnya diberi beasiswa untuk belajar Islam di universitas terkemuka Amerika dan Eropa. Otak mereka di ‘cuci’ dengan faham-faham Zionis. Tesis dan desertasi mereka menjadi ‘senjata makan tuan’ bagi umat Islam. Sehingga lahirlah Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Pluralismenya dan aliran Revesioner dengan keberaniannya mengubah kandungan Al-Qur’an dan menghujat hadits-hadits shahih, serta aliran-aliran sesat lainnya.

Termasuk anak-anak kita yang kini berada di taman kanak-kanak (TK) maupun sekolah dasar (SD), sedikit-demi sedikit pengetahuan mereka disesatkan. Contohnya terhadap keberadaan masjid Al-Aqsha di Palestina. Mereka tidak pernah dikenalkan dengan lokasi masjid umat Islam pertama itu, tempat dimana Rasulullah singgah sebelum melakukan mi’raj ke sidratul muntaha. Hal ini dinyatakan Herry Nurdi (mantan wartawan senior sabili), setelah dirinya melakukan penelitian terhadap berbagai buku peta dunia (ATLAS).

Menurutnya, di dalam ATLAS (termasuk globe) tidak ditemukan satu lokasi dimana negeri Palestina berada, bahkan yang ada adalah Israel—negara yang menumpang pada tanah muslimin. Lebih heran lagi, pada bagian belakang ATLAS—gambar bendera negara-negara di dunia—tidak ditemukan bendera Palestina, dan lagi-lagi digantikan dengan bendera Israel. “Ini menunjukan ada upaya dari kaum zionis Yahudi untuk menghapus ingatan generasi muda muslim sejak dini dari sejarah Islam, bahwa di dunia ini tidak pernah berdiri masjid kebanggaan umat Islam, Al-Aqsha, yang jelas-jelas milik muslimin.” Ungkap Herry Nurdi dalam seminar “Mengungkap Freemason dan Zionisme di Indonesia,” di UNTIRTA Cilegon, Banten, (9/6)

Lebih jauh ia mengungkapkan, gerakan berbahaya dari zionis Yahudi ini kini telah merambah ke rumah-rumah umat Islam di Indonesia. Ia mencontohkan, tayangan TV bernama Mamamia, KDI, Indonesia Idol dan yang serupa lainnya, merupakan upaya Yahudi untuk meninabobokan umat Islam dengan kesenangan-kesenangan dunia. Hingga akhirnya melupakan urusan muslimin yang amat besar, yaitu rasa kepedulian terhadap saudaranya yang tertindas, rumah suci—masjid—yang dihancurkan, dan tanahnya yang dirampas.

Kini, sangat sedikit—bahkan tidak ada—bidang kehidupan yang bersih dari campur tangan Zionis Internasional, pun di bidang politik, tak ada satupun kebijakan yang terlepas dari kepentingan Zionis.

Sebab itu hendaknya umat Islam sadar, bahwa Yahudi dan Nasrani akan terus berupaya menghancurkan agama ini, tidak hanya simbol-simbolnya yang di rusak, yang lebih berbahaya lagi mereka meracuni pikiran muslimin dengan faham-faham yang sesat dan menyesatkan (sekuler, pluralis, liberalism, dan isme-isme lainnya).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah (agama) mereka…”

Wahai kaum muslimin, ketahuilah Yahudi dan Nasrani bersatu untuk merusak dan menghancurkan Islam, maka jika muslimin tetap berpecah belah, hanya mementingkan ego dan kepentingan kelompok atau golongannya sendiri, niscaya kemenangan akan jauh dari tangan muslimin.

Takhtim
Keruntuhan muslimin dan kejayaan bagi Yahudi dan Nasrani tidak dapat dipisahkan dari tumbangnya kekhilafahan muslimin pada masa Turki Utsmani tahun 1924 M. Zionis Yahudi melalui Mustafa Kemal Atatturk telah berhasil merubah sistem kepemimpinan muslimin yang berbasis khilafah kepada negara-negara (sekuler).

Sejak itu, umat Islam kehilangan kepemimpinan yang dapat melindungi umat dalam menegakkan syari’at dan mencegah upaya perlawanan musuh-musuh Islam. Muslimin kehilangan kekuatannya dan hidup terjebak dalam sekat nasionalisme yang sempit, hilang rasa peduli dan empati terhadap saudara-saudaranya yang tertindas. Bahkan, akibat paling pahit dihapusnya kekhilafahan ialah lahirnya negara Israel ditengah-tengah bumi muslimin (Palestina).


Untuk kembali mewujudkan persaudaraan dan kesatuan umat Islam, Allah telah menetapkan syari’at khilafah sejak diturunkannya manusia di permukaan bumi ini (QS. 2:30; 3:103; 4:58-59). Sejarah membuktikan ketika umat Islam melaksanakan syari’at ini, mereka berhasil memimpin dunia dan mewujudkan kedamaian di muka bumi serta menghindari kekacauan di atasnya.


sumber : http://aseppozeic23.blogspot.com/2012/11/mengungkap-kelicikan-zionis-yahudi.html

Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Pengetahuan Pincang ( SISTEM EKONOMI ISLAM )


System ekonomi Islam adalah system ekonomi yang mandiri, oleh karenanya Islam mendorong kehidupan sebagai kesatuan yang utuh dan menolong kehidupan seseorang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, yang individu-individunya saling  membutuhkan dan saling melengkapi dalam sekema tata sosial, karena manusia adalah entitas individu sekaligus kolektif.Ekonomi Islam adalah cara hidup yang serba cukup, Islam sendiri menyediakan segala aspek eksistensi manusia yang mengupayakan subuah tatanan yang didasarkan pada seperangkat konsep Hablum  min-Allah wa hablum min-Annas, yang berkaitan tentang tuhan, manusia dan hubungan keduanya (tauhidi). Matra ekonomi Islam menempati kedudukan yang istimewa.  Karena Islam yakin bahwa stabilitas universal tergantug pada kesejahteraan material dan sepiritual manusia. Kedua aspek ini terpadu dalam satu bentuk tindakan dan kebutuhan manusia.Aktivitas antar manusia termasuk  aktivitas ekonomi terjadi melalui apa yang di istilahkan oleh ulama’ dengan  mu’amalah (intrataksi) pesan al-quran dalam aktivitas ekonomi;

وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ                                                                                                             

Dan janganlah (saling) memakan harta diantara kalian dengan (cara yang) batil dan (jangan pula) membawa (urusan harta)itu kepada hakim (untuk kalian menangkan) dengan (cara) dosa agar kalian dapatmemakan sebahagian harta orang lain, padahal kalian mengetahui (Q: S. Al Baqoroh   : 188)

Islam bukan sekedar menawarkan pedoman-pedoman moral teoritis guna membangun system ekonomi, tapi juga mengemukakan suatu metodologi yang layak untuk menerapkan pedoman-pedoman dengan ke absahan cara dan juga legitimasi tujuan dengan landasan atas pertimbangan etika yang jelas dan dapat bemakna di dalam keseluruan kerangka tata sosial, dengan pendekatan terhadap system ekonomi ini sangat relevan dan amat mendesak untuk di alamatkan pada syari’ah dengan system ekonomi islam.